JAKARTA, TERKINI.COM- Pada ulang tahun terakhir Bung Karno, seorang anak mengangkat kamera. Ia tak tahu, sebuah jepretan sederhana akan menjadi salah satu gambar paling memilukan dari akhir hidup sang Proklamator.
6 Juni 1970. Hari itu seharusnya menjadi hari ulang tahun. Di Wisma Yaso, Jakarta, Bung Karno genap berusia 69 tahun.
Tetapi tidak ada suasana perayaan yang lazim mengiringi ulang tahun seorang kepala negara—apalagi seorang tokoh yang bertahun-tahun terbiasa berdiri tegak di hadapan lautan manusia, mengangkat tangan, menggelegarkan suara, dan membuat jutaan orang mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Hari itu, tubuh Bung Karno justru terbaring. Memanjang di atas sofa.Lemah.Mata terpejam. Wajah dan anggota tubuhnya tampak membengkak.
Rachmawati Soekarnoputri datang bersama adiknya, Guruh.
Kelak, melalui kesaksiannya yang dicatat jurnalis Belanda Willem Oltmans, Rachmawati mengenang betapa terkejutnya ia melihat ayahnya dalam keadaan seperti itu. Ia mengaku hampir menangis. Ia mendekati Bung Karno, mencium ayahnya, lalu mengucapkan selamat ulang tahun.
Perlahan, mata Bung Karno terbuka.
Tetapi bukan ucapan panjang yang keluar.
Ia hanya meminta agar dibiarkan tidur sebentar lagi.
“Masih sebentar, Nak.”
Begitulah kira-kira suasana yang tertinggal dalam kesaksian tersebut.
Di kamar itu, seorang ayah sedang beristirahat.
Dan dua anak sedang melihat ayah mereka dalam keadaan yang mungkin belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Bagi dunia, dia adalah Soekarno.
Bung Karno.
Proklamator.
Presiden pertama Republik Indonesia.
Orator yang pernah mengguncang panggung-panggung dunia.
Tetapi bagi Rachmawati dan Guruh, di ruangan itu, dia hanyalah ayah mereka.
Ayah yang sedang sakit.
Ayah yang tubuhnya semakin lemah.
Ayah yang ulang tahunnya mungkin menjadi ulang tahun terakhir.
Lalu Guruh mengangkat kameranya.
Klik.
Sebuah bunyi kecil.
Hampir tak berarti.
Tidak ada dentuman meriam.
Tidak ada pidato.
Tidak ada sorak massa.
Hanya suara kecil dari sebuah kamera yang mengabadikan seorang lelaki tua di atas sofa.
Namun sejarah kadang bekerja dengan cara yang aneh.
Peristiwa-peristiwa besar tidak selalu dimulai dengan suara besar.
Catatan Willem Oltmans secara eksplisit menyebut bahwa Guruh-lah yang membuat foto Bung Karno pada 6 Juni 1970 itu. Dalam catatannya, Oltmans menuliskan bahwa untuk pertama kalinya dunia pers melihat foto mantan presiden Indonesia tersebut terbaring di sofa dengan mata terpejam, sementara Rachmawati berada di sisinya.
Foto itu kemudian keluar dari ruangan tempat ia dilahirkan.
Dari ruang keluarga menjadi dokumen sejarah.
Dari kamera seorang anak menjadi gambar yang dilihat publik dunia.
Sejumlah sumber menyebut foto tersebut dikirimkan Rachmawati kepada Associated Press (AP), kemudian beredar melalui pers asing. Catatan lain juga menyebut foto kondisi Bung Karno itu sampai kepada pers internasional.
Dan ketika foto itu muncul, publik melihat sesuatu yang selama ini mungkin tidak mereka bayangkan.
Bung Karno yang tidak lagi berdiri.
Bung Karno yang tidak lagi mengepalkan tangan.
Bung Karno yang tidak sedang berpidato.
Bung Karno yang hanya terbaring.
Sakit.
Diam.
Mata tertutup.
Sebuah gambar yang jauh lebih kuat daripada ribuan kata.
Tetapi sebuah foto, terutama foto tentang seorang tokoh sebesar Soekarno, hampir tidak pernah berhenti sebagai foto.
Ia menjadi berita.
Ia menjadi persoalan.
Ia menjadi sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
Sejarawan Asvi Warman Adam, sebagaimana dikutip detik, menyebut Guruh dan Rachmawati kemudian diinterogasi di Markas Corps Polisi Militer (CPM) Guntur setelah foto kondisi Bung Karno beredar kepada pers asing.
Dalam sumber-sumber lain yang merekam kesaksian Rachmawati, pemeriksaan terutama dikaitkan dengan dirinya sebagai orang yang mengirim foto tersebut kepada kantor berita.
Pertanyaan yang kemudian muncul terasa sederhana, tetapi menyimpan ketegangan zaman:
Mengapa seorang anak tidak boleh memotret ayahnya sendiri?
Dan sebenarnya, siapa Bung Karno pada saat itu?
Seorang mantan presiden?
Seorang tahanan?
Seorang pasien?
Atau seorang ayah yang sedang sakit dan kebetulan masih menjadi salah satu manusia paling terkenal di negeri ini?
Tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan tersebut.
Sebab pada tahun-tahun terakhir hidup Bung Karno, tubuhnya bukan hanya milik dirinya sendiri.
Tubuh itu telah menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Karena itulah satu foto keluarga berubah menjadi dokumen politik.
Lima belas hari setelah foto itu dibuat, waktu berhenti.
21 Juni 1970.
Bung Karno meninggal dunia.
Pada hari-hari terakhirnya, anak-anaknya bergantian berada di dekat sang ayah. Catatan Oltmans mengenai kesaksian Rachmawati menyebut bahwa pada saat-saat terakhir, seluruh anak Bung Karno hadir.
Tetapi jauh sebelum hari kematian itu datang, Guruh sudah lebih dulu menyimpan satu potongan waktu.
6 Juni 1970.
Seorang ayah terbaring.
Seorang kakak perempuan duduk di sisinya.
Dan seorang anak lelaki memegang kamera.
Tidak ada yang tahu bahwa foto itu kelak akan menjadi salah satu gambar paling dikenang dari penghujung hidup Bung Karno.
Tidak ada yang tahu bahwa jepretan itu akan keluar dari Wisma Yaso dan menembus batas sebuah keluarga.
Tidak ada yang tahu bahwa dunia akan melihat Soekarno bukan sebagai sang orator, bukan sebagai presiden, bukan sebagai simbol revolusi, melainkan sebagai seorang manusia yang sedang menghadapi tubuhnya sendiri yang semakin lemah.
Kini, 56 tahun kemudian, cerita itu terasa semakin sunyi.
Rachmawati telah lebih dahulu pergi pada 3 Juli 2021.
Dan pada Sabtu, 26 September 2026, Guruh menyusul ayah dan kakaknya.
Ia meninggal dunia pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun.
Maka foto lama itu kini terasa berbeda.
Dulu, Guruh berada di belakang kamera.
Sekarang, ia telah menjadi bagian dari masa lalu yang direkamnya sendiri.
Bung Karno sudah tiada.
Rachmawati sudah tiada.
Dan Guruh—anak lelaki yang menekan tombol kamera pada ulang tahun terakhir ayahnya—juga telah pergi.
Yang tersisa hanyalah gambar.
Gambar yang mungkin pada mulanya dibuat karena seorang anak ingin menyimpan wajah ayahnya.
Tetapi sejarah mengambilnya dari tangan sang anak.
Menjadikannya milik publik.
Menjadikannya saksi.
Menjadikannya ingatan.
Di dalam foto itu, Bung Karno tidak sedang berpidato.
Tidak sedang menggerakkan massa.
Tidak sedang menulis sejarah.
Ia hanya terbaring.
Dan mungkin justru karena itulah gambar tersebut terasa begitu manusiawi.
Di hadapan kamera Guruh, sang Proklamator akhirnya kembali menjadi seorang ayah.
Seorang ayah yang sedang sakit.
Seorang ayah yang pada hari ulang tahunnya hanya ingin tidur sebentar lagi.
Dan seorang anak lelaki yang, tanpa pernah tahu akibatnya, menekan tombol kamera.
Klik.
Satu detik.
Satu gambar.
Satu kenangan.
Dan sebuah foto yang kemudian bertahan jauh lebih lama daripada orang-orang yang ada di dalamnya.

