Di sebuah sudut kecil Samudra Hindia, seorang lelaki Inggris menghabiskan separuh hidupnya melakukan sesuatu yang bagi kebanyakan orang mungkin terdengar gila: membeli sebuah pulau, lalu mengembalikannya kepada alam.
Pada 1962, ketika sebagian orang melihat pulau sebagai investasi, surga wisata, atau tempat untuk membangun kemewahan, Brendon Grimshaw melihat sesuatu yang berbeda.
Ia melihat sebuah pulau kecil bernama Moyenne.
Pulau itu berada di Kepulauan Seychelles, di tengah birunya Samudra Hindia. Luasnya hanya sekitar 0,09 kilometer persegi. Tidak besar. Bahkan terlalu kecil untuk disebut sebagai sebuah dunia.
Namun bagi Grimshaw, Moyenne adalah dunia yang layak diselamatkan.
Ia membelinya pada 1962.
Bukan untuk membangun vila.
Bukan untuk mendirikan resor.
Bukan pula untuk menjualnya kembali ketika harganya naik.
Grimshaw justru melakukan hal yang berlawanan.
Ia menanam.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Puluhan tahun.
Bersama sahabatnya, René Lafortune, Grimshaw mulai mengubah wajah Moyenne. Mereka membuat jalan setapak di antara semak-semak, membersihkan lahan, menanam pohon, dan perlahan mengembalikan kehidupan yang pernah hilang.
Pekerjaan itu tidak selalu romantis.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kamera.
Hanya dua lelaki, tanah, bibit pohon, dan panas tropis Seychelles.
Mereka bekerja dengan tangan sendiri.
Sedikit demi sedikit, Moyenne berubah.
Pohon-pohon tumbuh.
Hutan mulai terbentuk.
Burung-burung kembali.
Dan pulau yang sebelumnya nyaris terlupakan itu perlahan menjadi rumah bagi kehidupan liar.
Grimshaw menanam sekitar 16.000 pohon.
Ia juga membantu memperkenalkan kembali kura-kura raksasa Seychelles, salah satu satwa ikonik kepulauan tersebut.
Jalur-jalur yang mereka buat kemudian membelah hutan seperti urat-urat kecil yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan lainnya.
Moyenne bukan lagi sekadar pulau.
Ia menjadi ekosistem.
Dan Grimshaw menjadi penjaganya.
Ketika uang datang mengetuk
Suatu ketika, datanglah sebuah tawaran yang sulit dibayangkan.
Sekitar US$50 juta.
Nilainya hari ini tentu jauh lebih besar jika dihitung dengan inflasi.
Bagi banyak orang, angka sebesar itu mungkin cukup untuk mengubah kehidupan beberapa generasi.
Grimshaw bisa saja menerimanya.
Ia bisa meninggalkan Moyenne.
Membawa uangnya.
Menjalani masa tua dengan nyaman.
Tetapi ia menolak.
Alasannya sederhana.
Ia tidak ingin Moyenne berubah menjadi taman bermain pribadi orang-orang kaya.
Ia tidak ingin hutan yang dibangunnya selama puluhan tahun berubah menjadi halaman belakang eksklusif.
Baginya, pulau itu bukan barang dagangan.
Moyenne adalah sesuatu yang harus tetap hidup.
Dan keputusan itu membuat kisah Grimshaw menjadi lebih besar daripada kisah seorang pria yang membeli sebuah pulau.
Ia sebenarnya sedang mempertaruhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali dengan uang: masa depan sebuah tempat.
Pulau yang diwariskan kepada semua orang
Perjuangan Grimshaw berlangsung selama puluhan tahun.
Ia terus menjaga Moyenne.
Terus menanam.
Terus merawat.
Terus mempertahankan gagasannya bahwa sebuah pulau kecil tidak harus menjadi milik segelintir manusia untuk menjadi berharga.
Pada 2008, perjuangan panjang itu menemukan bentuk akhirnya.
Moyenne menjadi bagian dari Seychelles National Park.
Pulau yang pernah berada di tangan seorang lelaki Inggris itu akhirnya menjadi milik yang lebih luas: alam, masyarakat, dan generasi yang belum lahir.
Grimshaw meninggal pada 2012.
Ia tidak membawa Moyenne bersamanya.
Tetapi mungkin memang bukan itu yang ia inginkan.
Sebab selama hidupnya, Grimshaw tidak sedang membangun sesuatu yang harus diwariskan atas namanya.
Ia sedang membangun sesuatu yang bisa bertahan bahkan ketika namanya dilupakan.
Pohon-pohon yang ia tanam terus tumbuh.
Burung-burung terus datang.
Kura-kura terus berjalan pelan di bawah bayang-bayang pepohonan.
Jalur-jalur yang dibuatnya masih membelah hutan.
Dan angin Samudra Hindia masih melewati daun-daun yang dahulu ia tanam dengan tangannya sendiri.
Pada akhirnya, Brendon Grimshaw sebenarnya mempunyai dua pilihan.
Ia bisa meninggalkan US$50 juta.
Atau ia bisa meninggalkan sebuah hutan.
Ia memilih hutan.
Dan mungkin, itulah salah satu warisan paling mahal yang pernah ditinggalkan seorang manusia kepada dunia.
Bukan karena harganya.
Tetapi karena ia memilih sesuatu yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sejak awal:alam.

