Awal 1954. Malam turun perlahan di Istana Merdeka. Di balik dinding-dinding tebal kediaman presiden, kehidupan sebuah keluarga kecil sedang berada pada masa yang semestinya paling hangat.
Fatmawati baru saja melahirkan. Di sampingnya, seorang bayi laki-laki berusia enam bulan tertidur. Namanya Guruh Soekarno Putra.
Pintu kamar terbuka.
Soekarno masuk.
Tetapi malam itu ia tidak datang untuk sekadar mencium kening istrinya atau menggendong putra bungsunya.
Ada sesuatu yang hendak ia sampaikan.
Sesuatu yang kelak mengubah arah kehidupan keluarga itu.
Soekarno meminta izin kepada Fatmawati untuk menikah lagi.
Dengan seorang perempuan bernama Hartini.
Fatmawati tersentak.
Ia tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang dicintainya itu akan kembali jatuh cinta kepada perempuan lain. Apalagi perhatian Soekarno kepadanya selama masa kehamilan Guruh terasa begitu penuh. Tidak ada tanda-tanda yang membuatnya curiga bahwa hati suaminya sedang berbelok ke arah perempuan lain.
Tetapi bagi Soekarno, perasaan itu sudah telanjur tumbuh.
“Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Begitu ia mengenang perjumpaannya dengan Hartini.
Perempuan itu seorang janda muda dengan lima anak.
Namanya Siti Suhartini.
Orang-orang kemudian lebih mengenalnya sebagai Hartini.
Lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 20 September 1924, Hartini adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya, Osan Murawi, bekerja sebagai pegawai Dinas Kehutanan. Ibunya bernama Mairah.
Parasnya ayu.
Tubuhnya tinggi semampai. Kulitnya kuning langsat. Rambut hitam lurusnya menjuntai hingga pinggang.
Namun mungkin bukan sekadar kecantikan yang membuat Soekarno terpikat.
Ada kelembutan khas perempuan Jawa pada dirinya. Tata krama yang tertanam sejak kecil. Cara berbicara yang halus. Cara menempatkan diri di hadapan orang lain.
Dan di hadapan Soekarno, kelak ia memilih menjadi perempuan yang bukan hanya kekasih.
Ia ingin menjadi rumah.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Mereka pertama kali bertemu pada 1952.
Soekarno sedang melakukan kunjungan kerja ke Salatiga. Ia datang untuk meresmikan pemugaran Candi Loro Jonggrang di kompleks Candi Prambanan dan pembangunan Masjid Shuhada di Yogyakarta.
Di tengah perjalanan sejarah seorang presiden, ada satu perjumpaan yang tampak sederhana.
Tetapi dari sanalah kisah itu bermula.
Soekarno jatuh cinta.
Dan seperti banyak orang yang sedang jatuh cinta, seorang presiden pun bisa kehilangan kemampuan untuk berhitung dengan dingin.
Keinginannya untuk mempersunting Hartini semakin kuat.
Pada malam Rabu, 7 Juli 1954, pukul 19.30, di Istana Cipanas, Soekarno dan Hartini resmi menikah.
Pernikahan itu berlangsung tertutup.
Tetapi kabar tentangnya segera menjadi bahan pembicaraan di negeri yang sedang mencari bentuk sebagai sebuah republik muda.
Bagi Soekarno, itu bukan perkawinan pertama.
Sebelumnya ada Utari, Inggit Garnasih, dan Fatmawati.
Namun tidak ada perkawinan yang dampaknya terhadap kehidupan Istana terasa seperti pernikahannya dengan Hartini.
Sebab kali ini, yang terluka bukan hanya sebuah hubungan.
Ada seorang perempuan yang merasa rumah tangganya direnggut oleh kehadiran perempuan lain.
Fatmawati.
Rambut yang Dipotong
Hartini kemudian diboyong Soekarno ke Istana Bogor.
Ia tinggal di sebuah paviliun.
Hubungannya dengan sang suami bahkan memiliki ritme tersendiri: Soekarno datang menemuinya terutama pada akhir pekan.
Sementara di Jakarta, Fatmawati menghadapi kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia memilih melawan dengan caranya sendiri.
Rambut hitamnya yang panjang dan tebal—bagian dari kecantikannya—dipotong pendek.
Soekarno terkejut.
Tetapi rambut itu hanyalah simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Fatmawati tidak ingin lagi hidup sebagai istri yang harus berbagi ruang dengan perempuan lain.
Ia meninggalkan kamar utama Istana Negara.
Pindah ke sebuah kamar di paviliun dekat Masjid Baiturrahim, masih di lingkungan Istana.
Kemudian ia menyiapkan rumah di luar kediaman resmi presiden.
Hingga pada penghujung 1955, Fatmawati menetap di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.
Rumah itu kelak menjadi tempat tinggal putra bungsunya, Guruh.
Sejak saat itu, ada jarak yang tidak lagi sekadar jarak antara Jakarta dan Bogor.
Ada jurang dalam sebuah perkawinan.
Fatmawati tetap ibu bagi anak-anaknya.
Tetapi sebagai istri Soekarno, ia seolah telah menutup pintu.
Bahkan bertahun-tahun kemudian, ketika Soekarno sakit keras, ia tetap tidak datang.
Ketika Soekarno menjalani masa-masa terakhir kehidupannya dalam tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta, Fatmawati juga tidak menjenguk.
Ketika kabar bahwa Soekarno berada di rumah sakit dan kondisinya kritis sampai kepadanya, jawabannya tetap sama.
Tidak.
Rachmawati Soekarnoputri menuliskan kembali kisah itu dalam Bapakku Ibuku—Dia Manusia yang Kucintai dan Kukagumi.
Menurut Rachmawati, ketika keluarga membujuk ibunya agar datang menemui Soekarno untuk terakhir kalinya, Fatmawati menjawab:
“Tidak! Di sana ada Hartini dan Dewi.”
Kalimat itu seperti pintu yang dikunci dari dalam.
Tidak pernah benar-benar terbuka lagi.
Perempuan yang Memilih Bertahan
Sementara Fatmawati menjauh, Hartini justru semakin mendekat.
Tahun-tahun berlalu.
Indonesia berubah.
Dan kehidupan Soekarno perlahan berubah menjadi jauh lebih sunyi.
Setelah peristiwa 30 September 1965 dan keluarnya Supersemar pada 1966, kekuasaan Soekarno menyusut.
Sang presiden yang dahulu dikelilingi rakyat, pejabat, seniman, diplomat, dan para pengagum kini semakin banyak menghabiskan waktu dalam ruang-ruang yang sunyi.
Orang-orang yang dahulu datang tanpa harus dipanggil mulai menghilang.
Tubuhnya mulai digerogoti penyakit.
Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan.
Pertanyaan-pertanyaan politik terus menghantuinya.
Kekuasaan perlahan meninggalkan dirinya.
Tetapi Hartini tidak.
Di Istana Bogor, Soekarno menemukan sesuatu yang sederhana: suasana rumah.
Di sana ada Hartini.
Ada Taufan.
Ada Bayu.
Dan untuk sementara, dunia di luar seakan berhenti mengetuk pintu.
Rachmawati kemudian menulis bahwa hanya di Istana Bogor itulah ayahnya kembali menemukan suasana sebagai suami dan kepala keluarga setelah Fatmawati meninggalkan Istana Jakarta.
Sebuah ironi yang getir.
Seorang lelaki yang pernah menjadi pusat perhatian jutaan manusia justru menemukan ketenangan di sebuah paviliun, bersama seorang perempuan yang tidak pernah menjadi ibu negara.
Bahasa Jawa untuk Sang Presiden
Hartini tumbuh dalam lingkungan Jawa yang menjunjung tinggi tata krama.
Kepada Soekarno, ia menggunakan bahasa Jawa halus.
Ia melayani suaminya dengan cara yang sederhana.
Ketika Soekarno datang, ia melepaskan sepatunya.
Sambal harus ia sendiri yang mengulek.
Ketika Soekarno hendak salat, ia yang menggelarkan sajadah.
Ia ingin menjadi lebih dari sekadar istri.
“Ibu, kekasih, sekaligus teman.”
Begitulah ia menggambarkan perannya.
Ada sesuatu yang menarik dari sosok Hartini.
Ia tidak mencoba mengambil tempat Fatmawati.
Setidaknya, dari kisah-kisah yang dituturkan anak-anak Soekarno, ia lebih memilih membangun tempatnya sendiri.
Dan jalan itu tidak mudah.
Anak-anak Soekarno dan Fatmawati tentu tidak serta-merta menerimanya.
Bagaimanapun, di mata mereka, Hartini adalah perempuan yang hadir setelah ibu mereka pergi.
Rachmawati masih sangat kecil ketika mengenal Hartini.
Awalnya hanya suara di telepon.
Hartini memanggilnya “Mbak Rachma”.
Pelan-pelan, hubungan itu mencair.
Hartini tidak membalas sikap dingin dengan kemarahan.
Ia memilih sabar.
Tidak semua luka sembuh.
Tetapi sebagian hubungan akhirnya menemukan jalan untuk berdamai.
Malam Keroncong di Istana
Ada satu gambaran yang barangkali paling menggambarkan perubahan kehidupan Soekarno pada masa itu.
Malam keroncong.
Dahulu, Soekarno adalah lelaki yang nyaris tidak pernah kehabisan panggung.
Pidato.
Rapat.
Perjalanan.
Pertemuan dengan rakyat.
Kunjungan kenegaraan.
Sorak massa.
Tetapi setelah 1965, ruang geraknya semakin sempit.
Ia yang terbiasa dengan keramaian tiba-tiba harus berhadapan dengan kesunyian.
Maka suatu malam, ia meminta agar pertunjukan keroncong digelar di Istana Bogor.
Seniman-seniman dari Jakarta dan Bogor dipanggil.
Musik dimainkan.
Soekarno menikmati malam itu.
Dan karena merasa sedikit terhibur, ia meminta agar malam keroncong kembali digelar dua minggu sekali.
Barangkali itulah yang tersisa dari kehidupan seorang presiden yang mulai kehilangan dunia lamanya:
musik, kartu, keluarga, dan seorang perempuan yang duduk di dekatnya.
Hartini.
Hari Ketika Presiden Itu Kehilangan Istana
Maret 1967.
Sidang MPRS Luar Biasa berlangsung di Jakarta.
Salah satu keputusan terpentingnya adalah menetapkan Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.
Berita itu sampai ke Istana Bogor.
Hartini berada di sana.
Soekarno terdiam.
Lama.
Tidak ada pidato.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kalimat panjang seperti yang biasa keluar dari mulutnya ketika berhadapan dengan ribuan orang.
Hanya kesunyian.
Kemudian ia menarik napas panjang.
Menurut Hartini, Soekarno berkata:
“Aku telah berusaha memberikan segala sesuatu yang kuanggap baik bagi nusa dan bangsa Indonesia.”
Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Setelah itu, Soekarno dipindahkan dari Istana Bogor.
Kemudian ke Batu Tulis.
Lalu ke Wisma Yaso di Jakarta.
Di tempat itulah seorang lelaki yang pernah memimpin republik akhirnya menjalani hari-hari terakhirnya dalam pengasingan.
Ia tidak lagi bebas menerima tamu.
Tidak lagi bebas bepergian.
Tidak lagi memiliki panggung untuk berpidato.
Tidak lagi memiliki negeri di telapak tangannya.
Tetapi Hartini datang.
Jajan Pasar dan Permainan Kartu
Pada 1969–1970, Hartini hampir setiap hari mendatangi Wisma Yaso.
Ia membawa jajan pasar kesukaan Soekarno.
Menemaninya makan siang.
Bermain kartu.
Atau sekadar duduk menunggui Soekarno tidur siang.
Tidak ada sorak massa.
Tidak ada bendera.
Tidak ada protokol kenegaraan.
Tidak ada gelar yang perlu dipertahankan.
Hanya seorang perempuan dan seorang lelaki tua yang sedang menghadapi penghujung hidup.
Di sanalah mungkin gelar-gelar menjadi tidak penting.
Soekarno bukan lagi “Paduka Yang Mulia”.
Bukan lagi “Presiden”.
Bukan lagi pemimpin revolusi.
Ia hanya Bung Karno.
Dan Hartini tetap memanggilnya dengan penuh hormat.
Ia berada di sana ketika kekuasaan sudah pergi.
Ketika sebagian orang memilih menjauh.
Ketika tubuh Soekarno semakin lemah.
Dan ketika masa lalu yang gemilang hanya tinggal kenangan.
Surat yang Tak Pernah Mendapat Jawaban
Hartini sebenarnya tahu bahwa keberadaannya membawa luka bagi Fatmawati.
Karena itu ia mencoba membuka pintu.
Berkali-kali.
Dengan sopan, ia mengirim surat kepada Fatmawati dan meminta izin untuk berkunjung.
Tetapi tidak pernah ada lampu hijau.
Hubungan kedua perempuan itu tidak pernah benar-benar pulih.
Hartini akhirnya menerima kenyataan tersebut.
Ia mungkin tidak memperoleh tempat sebagai sahabat Fatmawati.
Tetapi perlahan ia memperoleh tempat di hati anak-anak Soekarno.
Bukan dengan memaksa.
Bukan dengan menggantikan ibu mereka.
Melainkan dengan waktu.
Dengan kesabaran.
Dengan sikap keibuan yang terus ia pertahankan.
Dan mungkin karena itulah, ketika menengok kembali masa lalu, Rachmawati akhirnya dapat mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar hubungan antara seorang anak dan ibu tiri.
“Ia setia kepada bapakku baik dalam masa jaya maupun pada masa kejatuhannya.”
Ratu Tanpa Mahkota
Soekarno menikah dengan sembilan perempuan secara resmi sepanjang hidupnya.
Hartini bukan yang pertama.
Bukan pula yang terakhir.
Tetapi kisahnya memiliki tempat tersendiri dalam sejarah kehidupan sang proklamator.
Ia tidak pernah menjadi ibu negara.
Tidak pernah berdiri sebagai perempuan utama di podium kenegaraan.
Tidak pernah menyandang mahkota politik.
Namun ketika mahkota itu akhirnya terlepas dari kepala Soekarno, Hartini masih berada di sisinya.
Ia menemani lelaki itu ketika Istana berubah menjadi tempat yang asing.
Ia datang ketika Wisma Yaso menjadi dunia kecil yang sunyi.
Ia membawa makanan sederhana.
Menemani makan.
Menggelar sajadah.
Bermain kartu.
Menunggu tidur.
Dan barangkali justru di situlah letak paradoks terbesar kisah Hartini.
Ia masuk ke kehidupan Soekarno sebagai perempuan yang membuat sebuah keluarga retak.
Tetapi pada penghujung kehidupan Soekarno, ia pula yang bertahan ketika hampir seluruh dunia politik meninggalkannya.
Sejarah sering mengingat mereka yang berdiri di atas podium.
Nama mereka dipahat di monumen.
Wajah mereka dicetak di buku pelajaran.
Tetapi ada pula manusia-manusia yang berada jauh dari sorotan kamera.
Tidak memiliki mahkota.
Tidak memiliki jabatan.
Tidak memiliki panggung.
Hanya memiliki kesetiaan.
Hartini adalah salah satunya.
Dan mungkin, bagi seorang lelaki yang pada akhirnya kehilangan hampir segala sesuatu, kehadiran seorang perempuan yang tetap datang setiap hari membawa jajan pasar dan duduk di sampingnya adalah bentuk mahkota yang paling sederhana.
Sekaligus paling manusiawi.

