Ilustrasi bitcoin lagi
JAKARTA, TERKINI.COM – Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan signifikan, ambruk ke level US$94.224, kesulitan mempertahankan support di angka US$95.668.
Penurunan ini memicu perhatian luas dari para trader dan analis kripto, termasuk Peter Brandt, seorang trader kawakan yang membandingkan pola pergerakan Bitcoin saat ini dengan pola Hump-Slump yang terjadi pada tahun 2018.
Menghadapi Tekanan, Bitcoin Masih Berusaha Stabil
Di tengah situasi yang menegangkan, Fear and Greed Index menunjukkan pergeseran dari Extreme Greed ke zona greed yang lebih moderat, memberikan sedikit harapan akan stabilisasi harga setelah tekanan jual yang mulai mereda.
Namun, Bitcoin masih terperangkap dalam tren sideways, gagal merebut kembali angka US$100.000 sebagai level support utama yang menjadi tolak ukur bagi banyak investor.
Strategi Peter Brandt: Pola Hump-Slump yang Kembali Terulang
Peter Brandt menyoroti kemiripan pergerakan harga Bitcoin saat ini dengan pola harga dari tahun 2018. Dalam analisisnya, ia mengungkapkan bahwa Bitcoin kini memasuki pola yang dikenal dengan nama BHLD (Bump, Lump, Hump, Dump), yang mungkin akan berakhir dengan skenario yang serupa dengan pola Hump-Slump-Pump-Dump.
“Lihatlah pola grafik ini yang pernah saya posting beberapa tahun lalu. Pola yang sama mungkin sedang terjadi sekarang,” ujar Brandt yang optimis meski harga sedang mengalami koreksi seperti dikutip Terkini.com dari laman beincrypto.com (30/12/2024).
Momentum Makro: Perubahan Sentimen Pasar
Sentimen pasar Bitcoin sedang berada di fase transisi. Setelah lama berada di zona Extreme Greed, Bitcoin kini mengalami pergeseran ke posisi yang lebih moderat. Sejarah mencatat, pada fase Extreme Greed, BTC seringkali mengalami koreksi tajam.
Kini, dengan moderasi sentimen, ada harapan bahwa harga Bitcoin bisa stabil dan berpotensi meraih keuntungan jangka pendek. Meski begitu, pergerakan pasar yang terlalu bearish juga dapat membatasi potensi recovery.
Level Support dan Prediksi Harga BTC ke Depan
Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$94.224 dan berusaha keras untuk mempertahankan support di angka US$95.668.
Para investor diharapkan menahan diri dari aksi ambil untung, guna memberi ruang bagi BTC untuk memperbaiki momentum yang sempat hilang. Jika berhasil kembali menembus angka US$100.000, ini bisa menjadi sinyal bahwa tren bullish jangka pendek sedang dimulai.
Namun, jika Bitcoin gagal bertahan di level US$95.668, harga bisa turun lebih jauh dan menguji level support di angka US$89.800. Jika ini terjadi, prospek bullish Bitcoin akan semakin redup dan pemulihan harga dapat tertunda hingga tahun 2025, yang tentunya akan semakin memperburuk ketidakpastian di kalangan investor.
Para pelaku pasar tentu berharap agar harga Bitcoin dapat kembali stabil, meskipun banyak faktor yang dapat memengaruhi harga lebih lanjut. Kini, semua mata tertuju pada apakah BTC akan menguat kembali atau justru mengalami penurunan lebih dalam (Wan).